Sajak XXVIII


Jaring menjarumi jurang

corong mencurangi terang

taji menajamkan guci

darah mendera diri

kaki menapaki hati

nanah memanah tanah

mata mematai mati

mengapa tak diremuk-redam suara jiwa?
Mengapa tak ditusuk temali rintihan raga?

Kubiarkan tubuhku hanyut dalam untaian lendir pekat nan memutih di kegelapan.
Siapa tahu?
Hanya aku dan dia


11 Desember 2010

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sajak XXVIII"

Posting Komentar