Tinta mulai menggores kertas yang kosong
semua pikiran tertumpah,
membanjiri kertas kecil yang hanya cukup untuk sebuah kalimat
kata-kata di dalam otak segera meluncur laju,saling mendahului
agar bisa tertulis
sibuk,pikiran mulai sibuk dengan celotehan kata.
Mereka itu tidak bisa diam
walaupun tanpa lidah,mereka tetap bisa bersuara
ketika tinta sudah melukiskan berbagai lambang,
mataku mulai menatap erat setiap lekuk yang terbentuk
tanpa kedipan,kulihat tinta itu bergerak dengan tarian yang anggun
meliuk-liuk di atas kertas seperti gerakan penghibur jalanan
kata-kata itu semakin banyak,hampir memenuhi secarik kertas.
Namun tinta itu mulai mengering,tersayat tebing pada lubang-lubang kertas
Ketika otak mulai letih,semua tulisan akan segera berhenti.Berganti dengan ketenangan yang damai.
Tenang dalam tidurku pada malam ini
11 Oktober 2010
semua pikiran tertumpah,
membanjiri kertas kecil yang hanya cukup untuk sebuah kalimat
kata-kata di dalam otak segera meluncur laju,saling mendahului
agar bisa tertulis
sibuk,pikiran mulai sibuk dengan celotehan kata.
Mereka itu tidak bisa diam
walaupun tanpa lidah,mereka tetap bisa bersuara
ketika tinta sudah melukiskan berbagai lambang,
mataku mulai menatap erat setiap lekuk yang terbentuk
tanpa kedipan,kulihat tinta itu bergerak dengan tarian yang anggun
meliuk-liuk di atas kertas seperti gerakan penghibur jalanan
kata-kata itu semakin banyak,hampir memenuhi secarik kertas.
Namun tinta itu mulai mengering,tersayat tebing pada lubang-lubang kertas
Ketika otak mulai letih,semua tulisan akan segera berhenti.Berganti dengan ketenangan yang damai.
Tenang dalam tidurku pada malam ini
11 Oktober 2010
0 Response to "Sajak XXXI "
Posting Komentar