Tanah liat yang kau genggam sempat membuatku iri
Lentik jari yang kau alunkan telah membentuk mahkluk kecil
Kecil,hanya bisa lekat dengan olesan minyak susu
Kau jemur,di bawah mentari yang keras
Namun......ia merekah,retak,hancur,lebur
Terbang bersama angin
Yang tersisa hanya secuil debu
Dan bekas cetakan mainanmu di hamparan tanah
Aku selalu ingin
Bersandar kepada realitas yang telah mengalirkan darah merah
Aku selalu ingin
Berdiri di antara benua kelam dan samudera yang telah kering
Api kecil telah menghanguskan atap rumahmu
Bingung tanpa tahu aku harus bagaimana
Ketika yang tersisa hanya debu dan abu
Kau tak lagi membuatku iri
15 Maret 2010
0 Response to "Sajak XXIII"
Posting Komentar